Bayangkan sekarang tahun 2026. Mobil sudah mulai terbang (mungkin), AI sudah bisa menggantikan manajer proyek yang hobi revisi, dan teman-teman developer saya sudah sibuk berdebat tentang framework 'Quantum-React' atau 'Neural-Vue'. Sementara saya? Saya masih duduk di pojokan, menyesap kopi yang sudah dingin, sambil mengetik $('#btn-submit').on('click', ...). Rasanya seperti membawa keris ke medan perang yang penuh dengan lightsaber. Ada rasa malu yang terselip setiap kali saya membuka developer tools di depan anak magang yang baru lulus kemarin.
Tapi jujur saja, keresahan saya bukan karena saya nggak bisa belajar teknologi baru. Saya cuma lelah dengan kerumitan yang nggak perlu. Kenapa kita harus melakukan konfigurasi Webpack selama tiga jam hanya untuk membuat sebuah tombol yang kalau diklik muncul tulisan 'Halo'? Di sinilah saya akan membela 'sang legenda' yang katanya sudah mati ini.
1. Praktis: Menang di Kecepatan, Bukan di Gengsi
Di tahun 2026, waktu adalah segalanya. jQuery itu ibarat mie instan di tengah gempuran restoran bintang lima yang antrenya dua jam. Saya pakai jQuery karena praktis dan mudah digunakan. Tidak perlu pusing memikirkan state management yang muter-muter kalau cuma mau memanipulasi DOM sederhana. Menulis kode dengan jQuery itu rasanya seperti ngobrol sama teman lama; langsung to the point tanpa basa-basi birokrasi boilerplate.
2. Ekosistem Library yang Belum Ada Lawannya
Banyak orang lupa kalau jQuery punya ribuan library dan plugin yang sudah matang. Mau bikin slider? Ada. Mau bikin data table yang bisa di-sort dan di-filter dalam 5 menit? jQuery punya solusinya. Menggunakan library ini bukan berarti kita malas, tapi kita menghargai waktu. Kenapa harus bikin roda dari awal kalau sudah ada roda yang tinggal dipasang dan sudah teruji selama belasan tahun?
3. User Tidak Peduli Stack Anda
Ini adalah kenyataan pahit yang sering dilupakan developer: User tidak peduli teknologi apa yang kita pakai. User tidak akan protes, 'Ih, kok website ini nggak pakai Server-Side Rendering dengan Hydration yang optimal sih?'. Yang mereka peduli adalah: Apakah tombolnya berfungsi? Apakah aplikasinya lemot? Dan apakah masalah mereka selesai? Kalau jQuery bisa menyelesaikan masalah itu dalam waktu singkat dan performanya masih masuk akal, kenapa tidak?
Kesimpulan: Yang Penting Beres
Jadi, meskipun tahun 2026 nanti saya dianggap sebagai 'dinosaurus' di kantor, saya tetap bangga. Karena pada akhirnya, tugas kita sebagai software engineer adalah memberikan solusi, bukan sekadar pamer stack teknologi paling mutakhir. Lagipula, tagihan cicilan saya tidak peduli apakah saya pakai useEffect atau cuma $(document).ready(), yang penting gajian lancar karena project-nya selesai tepat waktu.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!